Sebut saja Bunga (bukan nama sebenarnya) seharusnya sudah sejak 2 tahun lalu dia diangkat dan praktek menjadi seorang dokter.

Namun siapa sangka, ternyata kuliah kedokteran itu butuh effort tidak hanya biaya, namun daya ingat yang kuat untuk bisa menganalisa penyakit dan keterampilan berkomunikasi dengan para pasien.

Semua itu harus Bunga jalani terseok-seok dan tak jarang dengan tangisan, demi senyum bahagia kedua orangtuanya yang menginginkannya menjadi seorang dokter.

Singkat cerita semua penderitaan itu akan berakhir, sebab 7 bulan lagi dia akan selesai praktek lapangan dan itu akan dia persembahkan kepada kedua orangtuanya.

Meski sebenarnya, semua itu baru permulaan karena ujian sebenarnya adalah saat praktek menjadi dokter sungguhan dimulai.

***

Sobat Enjoy,

Berapa banyak dari kita yang alami seperti cerita di atas?
Pilih jurusan bukan karena kemampuan diri, namun paksaan orang tua atau orang-orang terdekat kita.

So.. apakah kita akan lakukan hal yang sama kepada anak-anak kita?
Tentu tidak kan?

Kini hadir sebuah teknologi mengenali potensi kecerdasan dan minat anak sejak dini yang bisa mengarahkannya kepada profesi yang cocok, yakni STIFIn.

Silakan whatsapp kami di 081283147000 untuk info lebih lanjut.